Ads 468x60px

Senin, 14 Januari 2013

Analisis Puisi "Surat" Abdul Wachid B.S



Puisi
 “Surat”
Tahun 1994.                                                                        
Buku Ijinkan Aku Mencintaimu 2004
 Abdul Wachid B.S

Biografi

Abdul Wachid B.S, lahir di dusun terpencil Bluluk Lamongan, Jawa Timur, 7 Oktober 1966. Ibunya (Siti Harawati) pedagang kecil, guru dan ketua yayasan di sebuah Madrasah kecil (Miftahul Amal). Melalui buku koleksi ayahnya, Achid mulai gemar membacanya. Sekolah dasar diselesaikannya di SDN Bluluk 1. Madrasah Ibtidaiyah tak sempat diselesaikanya. SMP-nya ia selesaikan si SMP Negeri 1 Babat. Lalu melanjutkan di SMA Negeri Argomulyo Yogyakarta, saat inilah Achid mulai giat bersastra, bersama rekanya mendirikan majalah sekolah. Pernah kuliah Rangkap di Fak. Hukum Univ. Cokroaminoto ( 1985-1987) dan Fak. Sastra Kebudayaan di UGM (Lulus)

Ia pernah sebagai Dosen-tamu Bahasa Indonesia dan IBD di sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Wiwaha Yogyakarta (1998-2000). Juga dosen tamu untuk mata kuliah kritik sastra, Drama, Penulisan Sastra Kreatif, Retorika, Ilmu Budaya Dasar dan Kajian Puisi di Universitas Muhammadiyah Purwokwrto (1997-Sekarang). Kini Abdul Wachid selain terus menulis puisi dan esai, sebagai dosen negeri untuk mata kuliah Ilmu Budaya Dasar dan Bahas Indonesia di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwakerto, sembari menyelesaikan program S-2 program studi Sastra Indonesia di Universitas Gadjah Mada.

Pengenalan karya Puisi dan esensinya dipublikasikan di majalah Horison, dan Koran Tempo, Media Indonesia, suara pembaruan, republika, Kompas pikiran Rakyat, Suara merdeka, Kedaulatan Rakyat, solo Post, Surabaya Post, Jawa Pos dan Balai Post. Sebagai sajaknya terdokumentasi dalam buku sembilu (Dewan Kesenian Yogyakarta, 91, Ambang DKY, 92) Oase (Titian Ilahi Press, 94) Serayu (Harta prima Press 95), Lirik-lirik kemenangan (Taman budaya Yogya, 1994) Tabur Bunga (Seperempat Abad Khul Bung Karno 95) Negeri Poci-3 (Tiara Jakarta, 96), Mimbar Penyair Abad 21 (balai Pustaka 96), Gerbang (Cempaka Kencana, 1998), Tamansari (Vestival Kesenian Yogya x , 1998), Aaceh Mendesah dalam Nafsu (kampanye Seni untuk HAM Aceh, 1999), Embun Tajali (Aksara Indonesia 2000) Angkatan Sastra 2000 (Grasinda, 2000), Hijau Kelan (Kompas 2002) dll

Esensinya terdokumentasi dalam buku KIat Menembus Media Masa (Titian Ilahi Peress, 94) Begini Begitu (Dewan Kesenian Yogya, 97) Ia juga mengeditari Bantalku Ombak Slimutku Angin, dan Lautmu Tak Habis Gelombang karya D. Zawawi Imran. Juga Kritik Sastra Indonesia Modern, disertai Prof. Dr . R. Djoko Pradopo, yang diterbitkan Gama Media, Januari 2002. Rumah Cahaya (Ittaqa Press 1995; Gama Media, 2003), merupakan sajak yang menghimpun awalnya. Sastra Melawan Slogan (FKBA, 2000), merupakan bunga rampai esainya yang diberi kata penutup oleh Dr. Faruk. Rumah Cahaya, sempat dikritik oleh Kritikus Adi Wicaksono secara panjang-lebar di Histeria Kritik Sastra (Bentang, 1996), dn menjadi pollemik berkepanjangan di Kedaulatan Rakyat. Religiositas Alam dari Surealisme ke Spiritualisme D, Zawawi Imron (Gama Media, 2002), merupakan kajian ilmiah terhadap perpuisian Indonesia decade 1980-an, khususnya perpuisian D. Zawawi Imron, diberi kata pengantaroleh Prof. Dr. R. Djoko Pradopo. Buku Pilihan Tunjamu Kekasih (Bentang, 2003).

Event kesustraan yang sempat mengundang ia membacakan sajak-sajaknya: Festial Kesenian Yogya (FKY) III. 1991, FKY IV-1992, FKY VI-1994, Haul Seperempat Abad Bungkarno di Mblita 1994, Festifal November 1996 di Taman Ismail Marzuku Jakarta, Malam Milenium Baru 2001 di Taman Budaya Surakartabersama Agus R. Sarjono, Ahmad Subauddin Alwy, D. Zawawi Imron, dan Rendro. Sajaknya memenangkan lomba Cipta Puisi FKY IV-1992 dibukukan dalam buku Ambang; Lomba Cipta Puisi Taman Budaya Yogya 1994 dibukukan dalam buku Lirik-lirik Kemenangan

Latar Belakang

Karya Sastra Puisi merupakan bagian yang tak terpisahkan bagi kehidupan manusia dan sangat menarik untuk dipelajari. Selain itu, Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai berbagai ekspresi puitis, meskipun tidak secara langsung berkaitan dalam kegiatan berpuisi atau bersastra. Apabila kita berhadapan dengan ungkapan hidung belang, yang ditujukan kepada seseorang yang gemar mempermainkan perempuan, sebenarnya kita sedang menggunakan ekspresi puitis. Demikian halnya dengan ungkapan  mata keranjang yang ditujukan kepada seseorang yang mudah terpikat dengan perempuan-perempuan yang dilihatnya, ekspresi tersebut bersifat puitis. Hidung belang dan mata keranjang merupakan gaya bahasa yang diungkapkan dengan maksud untuk menyatakan sesuatu yang lain. Tujuannya untuk memperjelas maksud yang hendak disampaikan. Bahkan dalam lirik lagu pun, sebenarnya terdapat unsur puitis, karena pilihan katanya yang khas.

Apa yang telah dibicarakan menunjukan bahwa kehidupan manusia sehari-hari  tidak dapat lagi dilepaskan dari kesusastraan, meskipun kegiatan bersastra tersebut dilakukan tanpa disadari. Dalam hal ini, puisi menjadi khas oleh kalangan umum, karena sebagai teks ia menarik perhatian pembaca kepada teks itu sendiri. Selain itu, memahami puisi sebagai suatu luapan spontan dari perasaan-perasaan yang kuat. Sehingga memacu para pembaca untuk ikut terjun dalam suasana puisi yang dibawakan. Maka dari itu perlu di ketahui mengenai struktur dan unsur pembentuk lainnya di antaranya yakni surealitas dalam sajak, seperti adanya representasi (mengubah pikiran menjadi bayangan visual kedalam bahasa) tidaklah cukup hanya dengan menemukan meaning unsur-unsurnya, tetapi harus sampai tataran semiotik, dengan membongkar kode sastra secara struktural atas dasar significance-nya.

Sejarah Penciptaan

Di dalam buku Ijinkan Aku Mencintamu terdapat banyak puisi salah satunya yang berjudul “Surat” 1994. Menurut buku Ijinkan Aku Mencintaimu karya Abdul Wachid B.S dalam pisi surat 1994, sejarah penciptaan disejarahkan oleh seorang yang gemar membaca karya-karya abdul wachid. Yaitu seorang yang bernama Urara Numazawa, dia juga seorang penulis sastra yang kelahiranya Kebangsaan Jepang. Dalam sejarah penciptaan puisi “Surat” 1994 ini dikatakan karena pada jaman dahulu, laki-laki bangsawan harus belajar menulis puisi untuk dikirim ke sang ratu hati sebagai pengungkapan perasaan. Kesempatan untuk bertemu denga perempuan bangsawan itu sangat terbatas, biasanya mulai dari sepucuk surat yang disisipkan puisi Khas Jepang. Yakni tanaka atau waka. Tanaka adalah puisi yang memiliki pola bunyi yang teratur yang terdiri dari pola suku kata sejumlah 5-7-5-7-7

Waktu Penciptaan

Buku kumpulan puisi Ijinkan Aku Mencintaimu “Surat” 1994 ini dipublikasikan cetakan pertama pada bulan November 2002, cetakan kedua pada bulan Februari 2004


Puisi
Surat

Tengah malam di Jazirah
Aku menerbangkan Merpati Putih
Semoga sampai alamat kasih

Tahun 1994
Karya Abdul Wachid, B.S.
(Ijinkan Aku Mencintaimu,2004)


Unsur Instrinsik

Strukturr fisik puisi merupakan unsur estetik yang membangun struktur luar dari puisi. Unsur-unsur ini dapat ditelaah satu persatu, namun merupakan satu kesatuan yang utuh.  Berikut akan dijelaskan unsur-unsur struktur puisi terkait dengan puisi diatas.

Diksi dan Gaya Bahasa

Peranan diksi sangat penting, karena diksi merupakan segala-galanya dalam puisi. Sehingga ada yang mengatakan bahwa diksi merupakan esensi dari puisi. Bahkan ada yang mengatakan bahwa diksi merupakan dasar bangunan dalam penulisan puisi. Sehingga dapat diketahui seberapa hebat penyair mempunyai daya cipta. Terkait dengan puisi “Surat” diatas, terdapat diksi seperti merpati putih dan alamat kekasih. Dengan memilih akhir huruf yang memiliki bunyi yang sama yaitu ih, sehingga memperkuat makna bahwa merpati putih  benar-benar ditujukan kepada alamat kekasihnya yang dituju.

Menggunakan Gaya Bahasa Perluangan yaitu Epistrofa, semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perluangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berurutan. Dalam puisi tersebut kata merpati putih merupakan interpretasi dari bentuk surat, yang oleh penyair alihkan kepada ungkapan yang lain. Karena memiliki kesamaan perlakuan antara surat dengan merpati putih, yaitu sama-sama dijadikan sarana untuk menyampaikan sesuatu kepada suatu tempat.  Dalam hal ini, bahasa figuratif merupakan bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna.

Tema

Puisi Surat karya Abdul Wachid, B.S. diatas mengungkapkan tema tentang Harapan. Hal ini dapat dibuktikan melalui diksi pada baris terakhir semoga sampai alamat kasih yang menggambarkan bahwa penyair berharap suratnya sampai pada alamat kekasih. Selain itu, puisi “Surat” tersebut, menurut penulis dapat digolongkan pada aliran simbolisme. Karena dalam baris kedua terdapat ungkapan Merpati Putih, di mana penulis memiliki dua persepsi. Pertama, Merpati Putih  merupakan sebuah ungkapan yang menggantikan sesuatu yang berbentuk surat. Dengan kata lain, penyair memakai gaya bahasa dalam mengalihkan bentuk surat kepada Merpati PutihKedua, Merpati Putih adalah sebagai bahasa kiasan untuk perantara yang mengantarkan surat, dalam hal ini burung merpati putih. Karena dilihat dari sisi sejarahnya burung merpati merupakan sebuah sarana yang dipakai oleh orang jaman dahulu, untuk mengirimkan surat.

Amanat

Amanat berhubungan dengan makna karya sastra yang bersifat Interpretatif, artinya setiap orang memiliki tafsiran yang berbeda-beda dalam menangkap makna puisi, disesuaikan tingkat intelektual pembaca. Sehingga tidak menutup suatu kemungkinan adanya ketidaksamaan dengan apa yang hendak disampaikan oleh penyair. Dalam hal ini, pada puisi “Surat” tersebut, menurut penulis amanat yang terkandung didalamnya adalah apabila mencintai seseorang, segeralah ungkapkan kepadanya, baik melalui surat atau sejenisnya, dengan harapan cintanya terbalas.

Isi

Pada puisi Surat karya Abdul Wachid, B.S.  mengandung isi harapan agar surat yang dikirim tidak mengalami suatu hambatan, dan tersampaikan pesan didalamnya kepada  sang kekasih

Bunyi dan Aspek Puitik

Dalam puisi “Surat” tahun 1994 di atas menggunakan bunyi sajak A-A-A yang terdiri dari satu bait tiga baris. Sebagai bukti sajaknya yaitu Jazirah-A, Putih-A, kasih-A . Bunyi puisi itu terasa merdu karena aspek puitiknya ada penghayata yang begitu mendalam sehingga tercapai nilai estetika. Karya puisi Abdul Wachid B.S ini menggunakan  bahasa yang mudah sehingga pembaca mudah untuk memahami dan mengucapkannya. Puisi juga mempunyai arti simbolik yang ada hubunganya dengan perasaan penulis.

Struktur Batin

Struktur batin merupakan seseuatu yang berkaitan dengan mental atau batin yang menyatu pada struktur fisik puisi dan membentuk totalitas makna

  • Imaji atau Citraan

Diksi yang dipilih selalu menghasilkan pengimajinasian, dan karena itu kata menjadi konkret, seperti kita menghayati dengan penglihatan, pendengaran, dan lain-lain.  Istilah imaji, dapat dipahami secara reseptif dari sisi pembaca. Dalam hal ini pengimajian merupakan pengalaman indera terbentuk dalam rongga imajinasi pembaca yang ditimbulkan oleh sebuah kata atau oleh rangkaian kata. Dalam puisi tersebut, menurut penulis pada kalimat Tengah malam di Jazirah menginterpretasikan seorang penyair yang berada disuatu tempat di semenanjung. Sedangkan pada kalimat Aku menerbangkan merpati putih penulis gambarkan pada hal yang dilakukan oleh penyair di Jazirah. Dan pada baris terakhir semoga sampai alamat kekasih yaitu sebuah harapan yang dimiliki penyair ketika mengirimkan sesuatu kepada kekasihnya.
  • Perasaan

Perasaan memiliki hubungan dengan suasana hati penyair.  Dalam puisi “Surat”, gambaran perasaan penyair yang khawatir, cemas, takut terhadap surat yang dikirimnya tidak akan sampai kepada alamat sang kekasih.
  • Nada dan Suasana

Sikap penyair kepada pembaca dalam puisi disebut Nada. Adapun suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi.  Antara nada dan suasana juga saling berhubungan. Dengan pembacaan yang baik, maka pembaca dapat ikut merasakan suasana yang sedang iba, sedih, bahagia, dan lain-lain. Pada Puisi tersebut nada yang digunakan yaitu dengan nada halus bersuasana harapan.

Alat Retorika.

Yaitu digunakan penyair untuk mengajak pembaca menggunakan logika atau pikirannya dalam memaknai puisi. Lebih dari pada itu, penyair mengharapkan pembaca dapat menarik manfaat dari puisi yang dibacanya. Dengan demikian, sarana retorika berfungsi sebagai alat bagi penyair dalam menyampaikan perasaan dan pengalamannya melalui puisi. Alat retorika yang digunakan oleh Abdul Wachid B.S dalam puisi ini adalah dari gaya bahasanya sebagai contohnya adalah Merpati Putih. Merpati putih itu sebagi bahan utama penyampai karena diibaratkan kendaraan sang selalu siap menyampaikan isi dalam surat. Dengan kata lain burung merpati merupakan sebuah sarana yang dipakai oleh orang jaman dahulu, untuk mengirimkan surat.  

KESIMPULAN
Dalam kehidupan manusia tak lepas dari perjalanan yang indah, bahagia, cobaan, dan masalah. Puisi merupakan karya sastra yang bisa menggambarkan perasaan, masalah dimasyarakat bahkan masalah pada diri sendiri, mengungkapkan perasaan dalam hati dengan sebuah puisi, sehingga dapat terbuat karya yang baik, mempunyai nilai seni yang tinggi merupakan sebuah karya yang baik dapat menyentuh perasaan penulis dan pembaca. Pembacapun dapat memahami karya puisi dengan  mudah dan tersentuh hatinya.
Print Friendly and PDF

0 comments:

Poskan Komentar